Orang yang sudah dewasa akan diuji dengan hawa nafsu. Setiap saat akan muncul kasus, yang menciptakan dua hakim pada dirinya, yaitu hakim akal dan hakim agama. Dia diperintahkan agar senantiasa melaporkan kasus-kasus nafsu kepada dua hakim ini dan patuh kepada keputusan hukumnya. Dia juga harus melatih diri dan menyingkirkan hawa nafsu yang tidak baik akibatnya, agar di kemudian hari dia tidak mendapatkan kesengsaraan. Orang yang berakal harus tahu bahwa orang yang mengumbar nafsunya akan mendapatkan keadaan yang sama sekali tidak mengenakannya. Padahal biasanya dia juga tidak bisa meninggalkan hawa nafsunya, karena nafsu itu merupakan kebutuhan hidupnya. Maka dari itu engkau bisa melihat, orang yang kecanduan kahmr dan bersetubuh, tidak bisa menikmatinya secara total seperti yang dirasakan orang yang jarang jarang melakukannya. Hanya karena kebiasaan uang menuntut, maka dia lebih suka memilih menjerumuskan dirinua sendiri ke dalam kehancuran, sekedar untuk mendapatkan tuntutan kebiasaannya. Andaikata selubung nafsu disingkirkan darinya karena dia bisa mengukur kebahagiaan, lalu dia muram karena mengira telah mendapatkan kegembiraan dan menderita karena menginginkan kenikmatan, maka akhirnya dia seperti burung yang terkecoh oleh biji gandum. Dia tidak bisa mendapatkan biji yang dimaksud dan tidak bisa membebaskan diri apa yang diinginkannya.
Rabu, 04 Agustus 2010
TUNTUNAN MENGALAHKAN HAWA NAFSU (Bag.1)
Jika ada yang bertanya, bagaimanakah cara membebaskan diri dari nafsu, padahal nafsu itu harus terjadi pada dirinya? Jawabannya adalah dengan pertolongan dan taufik Allah, inilah cara untuk membebaskannya:
1. Harus ada hasrat, sehingga dia merasa cemburu terhadap diri sendiri dan nafsunya.
2. harus memiliki seteguk kesabaran dalam menghadapi kepahitan yang dirasakan saat itu.
3. kekuatan jiwa yang bisa mendorongnya untuk meminum seteguk kesabaran itu, sebab semua bentuk keberanian merupakan kesabaran sekalipun hanya sesaat, dan sebaik baik hidup ialah jika seseorang mengetahui hidup itu dengan kesabarannya.
4. Mempertimbangkan kelanjutan yang baik dan kesembuhan yang terjadi di kemudian hari.
5. mempertimbangkan penderitaan yang semakin menjadi-jadi, sebagai akibat dari menuruti
kenikmatan hawa nafsu.
6. Mementingkan kedudukannya di sisi Allah dan di hati hamba-hambaNya. Ini jauh lebih baik
dan lebih bermanfaat daripada mendapatkan kenikmatan karena menuruti hawa nafsu.
7. Lebih mementingkan kehormatan diri dan kelezatannya daripada kenikmatan kedurhakaan.
8. Kebanggaan dapat menundukan dan menaklukan musuhnya. Allah suka jika hamba-Nya berani dalam menghadapi musuhnya, sebagaimana firmannya..
”Dan mereka tidak menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh melainkan ditulis bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih” (At-Taubat: 120).
”Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak” (An-Nisa: 100).
Di antara tanda cinta yang tulus ialah melibas musuh kekasihnya dan mengalahkannya. Harus menyadari bahwa dia diciptakan bukan untuk kepentingan nafsu, tetapi untuk kepentingan yang besar, yang tidak dapat dicapai kecuali dengan menentang musuhnya.
9. Tidak boleh memilih bagi dirinya bahwa hewan lebih baik keadaannya daripada dirinya. Dengan tabiatnya hewan saja bisa membedakan mana yang membahayakan dan mana yang bermanfaat bagi dirinya, lalu dia mementingkan mana yang bermanfaat dan meninggalkan mana yang membahayakannya.
10. Melibatkan hati dalam mempertimbangkan akibat nafsu, sehingga dia bisa mengetahui seberapa banyak nafsu itu meloloskan ketaatan dan seberapa banyak nafsu itu mendatangkan kehinaan. Berapa banyak satu suapan yang menghalangi beberapa suapan. Berapa banyak sedikit kenikmatan yang menghilangkan beberapa kenikmatan. Berapa banyak sedikit syahwat yang menghancurkan kehormatan, menundukan kepala, menciptakan kenangan yang buruk, mengakibatkan celaan dan aib yang tidak bisa dicuci dengan air, sementara orang yang menuruti nafsu adalah mata yang buta.
11. Orang yang berakal harus menggambarkan tujuan yang terealisir seperti yang diinginkan nafsunya, kemudian dia harus menggambarkan keadaannya setelah memenuhi kebutuhan nafsu dan apa yang lepas darinya setelah ia memenuhi kebutuhan nafsunya. Dikatakan dalam sebuah syair, orang yang mulia yang tidak bisa melakukan sebab, sehingga kemudian dia bisa membedakan akibat.
12. Dia harus mempetimbangkan hak orang lain dengan sebenar-benarnya, kemudian harus menggambarkan jika kedudukannya seperti kedudukan orang lain itu. Sebab hukum sesuatu menurut hukum sepadannya.
13. Harus memikirkan apa yang dituntut jiwanya, lalu bertanya kepada akal dan agamanya, yang nantinya akan mengabarkan bahwa apa yang dituntut itu tidak ada artinya apa-apa.
14. Menghinakan diri sendiri karena dia tunduk kepada nafsu. Sebab tidaklah seseorang menuruti nafsunya melainkan pasti akan mendatangkan kehinaan pada dirinya. Jangan tertipu kehebatan dan kesombongan orang-orang yang mengikuti nafsunya, padahal jika dilihat dari batinnya, mereka adalah orang-orang yang paling hina dina. Mereka memang memadukan antara kesombongan dan kehinaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar